Resensi Film The Post (2017)

Pemain : Meryl Streep, Tom Hanks, Bob
Odenkirk, Matthew Rhys, Bruce Greenwood
Produser : Kristie M. Krieger, Amy Pascal,
Steven Spielberg
Sutradara : Steven Spielberg
Penulis : Liz Hannah, Josh Singer
Produksi : DreamWorks, Amblin Entertainment
Durasi : 1 jam, 56 menit
The Post adalah potret kegaduhan redaksi harian lokal yang meraih
popularitas lewat kerja keras para stafnya. Ini salah satu film terbaik tahun
2017. Rahasianya, terletak pada kejelian Steven dalam menyusun kronologi
kejadian dari dua jenis kecolongan. Pertama, AS kecolongan dokumen sensitif.
Kedua, The Washington Post kalah cepat membangun koneksi dengan orang dalam
pemerintahan sehingga dokumen berharga itu jatuh ke tangan koran tetangga.
Pemerintah AS bukannya mengakui kesalahan, malah menuntut balik The New
York Times. Mereka lupa pers tak selamanya bisa dibungkam dan publik tak
selamanya mau menutup mata atas ribuan tentara yang berkorban nyawa akibat
perang. Sementara The Washington Post terus menata potongan teka-teki dan
berhasil menggerakkan koran-koran lain untuk menyuarakan keresahan akibat
perang. Usaha pemerintah menemui kegagalan. The Washington Post sebaliknya.
Menurut Saya film The Post ini sudah memenuhi 9 (sembilan) elemen
jurnalisme, diantaranya :
1.
Kegiatan utama jurnalisme adalah pada pencarian
kebenaran. Hal ini dibuktikan oleh tokoh Daniel yang mengungkapkan kebenaran
perang di Vietnam yang selama ini di tutupi oleh pemerintah.
2.
Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara. Terbukti
setelah berita tentang perang di Vietnam mencuat ternyata banyak warga yang
tidak tahu dan tidak sedikit pula para warga melakukan demo.
3.
Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Verifikasi sendiri
adalah nyawa jurnalistik. Namun, dalam film post ini verifikasi tidak di
lakukan dengan pemerintah akan tetapi dengan adanya dokumen rahasia pemerintah
yang bocor ke tangan salah satu wartawan.
4.
Jurnalisme harus menjaga independensi dari objek
liputannya. Wartawan di film ini saya rasa bersifat netral. Mereka memberitakan
apa yang mereka temukan meskipun menentang pemerintahan.
5.
Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau
independen dari kekuasaan. Dalam hal ini pemerintah AS tidak mengakui kesalahan
bahwa mereka telah menyembunyikan kebenaran, akan tetapi mereka malah balik menuntut
The New York Times atas apa yang telah mereka beritakan.
6.
Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk mengkritik
maupun dukungan warga.
7.
Jurnalis harus berusaha membuat hal terpenting menjadi
menarik dan relevan. Hal tersebut dapat dilihat pada saat ada pemberitaan
perang di Vietnam yang selama ini di sembunyikan oleh pemerintah AS.
8.
Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan
proporsional.
9.
Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar