Selasa, 17 November 2020

KARANG TARUNA NGREJENG SIBUK MENGHASILKAN CUAN

 

Sumber : Dyah Ayu Arini


Karang Taruna mengalami kesulitan dana, menanam pohon pisang menjadi alternatif penyelesaian masalah.

Ngrejeng merupakan salah satu dukuh yang terletak di bangian utara kabupaten Sragen, alamat lengkapnya yakni Ngrejeng, Klandungan, Ngrampal, Sragen. Karang taruna di dukuh Ngrejeng bernama Bhina Remaja. Sesuai dengan namanya, organisasi ini diharapkan bisa membuat kalangan muda lebih baik.

Masa pandemi seperti ini memiliki dampak yang sangat besar. Tidak hanya pada individu namun juga berdampak untuk organisasi. Karang taruna Bhina Remaja Ngrejeng salah satunya. Pemasukan kas menjadi berkurang. Ketika sebelumnya mereka mendapatkan pemasukan dari dana parkir saat ada pasar malam, kini menjadi tidak ada sama sekali. Pemasukan kas hanya bergantung pada iuran anggotanya saja. sedangkan anggota yang aktif mengikuti kegiatan hanyalah sedikit, sekitar 50%, jelas Afik (27) selaku ketua karang taruna.

Permasalahan seperti ini jika dibiarkan terus menerus juga tidak baik. Akhirnya pada saat rapat dan arisan rutin anggota dan ketua karang taruna setuju untuk membuat terobosan baru yakni menananm pohon pisang. Tentu tidak mudah karena sebagian besar anggota karang taruna merupakan siswa. Para anggota belum memiliki pengalaman dalam menanam pohon pisang. “Jadinya kami tanya sama sesepuh, yakni Mbah Google” ucap Afik selaku ketua Karang Taruna Bhina Remaja Ngrejeng. “Beliau tidak marah ketika kami bertanya panjang lebar.. malah menjelaskan secara rinci tanpa kami minta” tambah Roni (21) saat ditemui di kediamannya.

Bibit pohon pisang yang didapatkan berasal dari kebun warga. Lahan yang dipakai juga merupakan kas warga Ngrejeng. Hal ini merupakan cuan untuk Karang Taruna Bhina Remaja Ngrejeng karena hanya bermodal usaha saja mereka dapat mengisi uang kas kembali. Harga buah pisang dipasaran juga lumayan tinggi, sedangkan penanamannya tidak membutuhkan banyak modal. Ini membuat organisasi remaja ini mendapatkan cuan lebih lagi. “Harga buah pisang satu tundun bisa sampai 80ribu, di kali 15 pohon.. cuan lagi kan mbak” papar Afik. “Apalagi kalo pisangnya mungil seperti unyil, bisa jadi konsumsi saat rapat mbak” Ujar Roni menambahkan.

Karang taruna ini memang rutin melakukan rapat setiap dua minggu sekali. Uang kas yan dikumpulkan digunakan untuk membuat undangan rapat dan membeli konsumsi. Sekali rapat bisa menghabiskan uang 50 ribu. Ketika ada pohon pisang yang buahnya kecil dan ketika dijual tidak laku maka akan menjadi konsumsi saat rapat. Cuan kembali didapatkan karena tidak perlu membeli makanan untuk konsumsi.

infografis : 

Tambahkan teks


Jumat, 23 Oktober 2020

TUTUP HINGGA NAIKKAN GAJI KARYAWAN, INILAH KISAH WARUNG MAKAN SAAT PANDEMI DI KAMPUS 1 UMS

 




Nasib Pemilik Warung di Sekitar UMS Selama Masa Pandemi

Pandemi covid-19 tidak hanya menghilangkan banyak nyawa, tetapi juga menghilangkan banyak mata pencaharian. Salah satu yang mengalaminya adalah pemilik warung makan. Mereka terpaksa mengurangi gaji karyawan, memecat karyawan hingga menutup warung makannya.

            Hal  ini di rasakan pula oleh sejumlah pemilik warung di kawasan kampus 1 UMS. Aseh (51), pemilik warung makan Salsa yang berada di Jl. Gatak III ini, awal masa pandemi warung nya masih berjualan, namun karena sepinya pelanggan, 7 bulan terakhir warung Salsa terpaksa tutup. Wanita bertubuh tambun ini bercerita mengenai kondisi warungnya, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, “Iya biasanya warung saya ramai sama mahasiswa, tapi sekarang ya mau gak mau harus tutup karena modalnya tidak ada untuk membeli bahan masakan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya (21/10/20). Warung makan ini menjadi penghasilan utama Aseh dan keluarganya. Namun karena pandemi, ekonomi Aseh hanya bertumpu pada penghasilan suaminya yang bekerja sebagai tukang tambal ban serta anaknya yang bekerja di pabrik.




Kondisi rumah makan Salsa (21/10/20). Foto dokumen penulis

 

            Nasib serupa juga dialami oleh Rohmiati. Pemilik warung makan di Jl Gatak 1 ini, terpaksa menutup warung yang sudah didirikannya selama 10 tahun karena tidak ada pembeli. Mei 2020, Rohmiati berusaha melanjutkan bisnisnya, dengan cara pesan antar makanan. “warung saya tidak buka, tapi saya sering buat status di whatsapp, isinya ya menu seperti mie goreng, pecel lele, sop matahari, nasi goreng, teamlo”.  Karena keterbatasan finansial, semula warung makan ini memiliki 2 karyawan, tetapi di bulan Maret para karyawan ini terpaksa diberhentikan. Akhirnya para karyawan mencari pekerjaan lain, salah satunya ada yang beralih menjadi petani.



Warung makan Seleraku tutup saat pandemi. Foto dokumen penulis

 

Sedikit berbeda dari Aseh dan Rohmiati, Warsilah memilih untuk tetap membuka warungnya meski pendapatannya menurun. Pemilik warung makan Po’we yang berada di Jl. Tanuragan ini, sudah berjualan lauk dan nasi sejak 2015. Alasannya untuk tetap membuka warung makan adalah ketiadaan mata pencaharian lain, di samping itu Warsilah juga harus membayar sewa warungnya sebesar 18 juta/tahun. Bahkan selama pandemi warung yang biasanya tutup sore  buka hingga malam hari.  Ya,  mau gimana lagi. Saya juga harus pintar putar uang. Ya penghasilannya hanya cukup untuk makan, cicil kontrakan, dan modal dagang lagi,” ungkap wanita berumur 50 tahun saat diwawancari di warungnya.  Agar dapat terus berjualan, Warsilah mengurangi dagangannya sesuai dengan modal yang ia miliki. “Saya harus cari sayur yang murah tapi bagus. Terus saya juga belinya di tempat yang murah dekat bandar asana. Kalau di pasar Kleco itu mahal.”




Wawancara pemilik warung makan Po’we yang sedang memasak (21/10/20). Foto dokumen penulis.

 

            Doni (22) Karyawan di Burjo Warmindo Ambucuy, mengaku gajinya tidak berkurang meski sedang pandemi. Warung makan yang berada di Jl. Beo Raya Timur masih tetap buka, tidak ada pengurangan menu namum setengah karyawannya di PHK. “Iya awalnya itu ada 8, pas pandemi secara bertahap pemilik warung  memecat 4 orang karyawannya,” ungkap pria muda berambut keriting itu (21/10/20). 

            Berbeda dari empat cerita di atas, warung OPJ tetap buka dengan menu yang sama banyaknya, bahkan pemilik warung mempertahankan dan menaikkan gaji karyawannya. “Karyawan saya tetap 6, sebenarnya bisa saja saya kurangi, tapi kasihan karena kan mereka juga butuh makan, ujar Bu Endang saat ditemui dikediamannya. Biasanya warung buka sampai pukul 14.00 WIB saat pandemi ini warung buka sampai pukul 21.00 WIB. Sistem kerjannya pun berbeda, saat ini karyawan bekerja dengan sistem shift. Tiga karyawan kerja pukul 06.00 – 14.00 WIB, 3 lainnya bekerja mulai pukul 14.00 – 21.00 WIB. Jika warung lain mengurangi gaji hingga memecat karywan pemilik warung ini justru menaikkan gaji karyawannya. Sebelum pandemi karyawan 5 ribu/jam sekarang mereka digaji 6 ribu/jam. Hal ini karena rasa kasihan pemiliknya.

            Meski berbeda kisah dan nasib, semua pemilik warung makan memiliki harapan yang sama terkait covid-19. Mereka berharap agar pandemi cepat usai dan semua kegiatan dapat berjalan normal. Dengan demikian, mereka juga dapat memiliki finansial yang cukup untuk terus melanjutkan hidup.

Alternatif Penjualan Warung Makan saat Pandemi

Sebelum pandemi, rasanya jualan makanan via online sudah hal yang biasa. Namun, baru-baru ini banyak pemilik warung makan yang awalnya hanya melayani jual beli langsung, ikut pula menjual dagangannya secara online, baik dengan sistem ojol (ojek online) atau pun DO (delivery order). Sejumlah warung makan ini di kawasan kampus 1 UMS pun banyak yang beralih menggunakan sistem online.

            Pendapatan melalui sistem ojek online juga tidak menentu. Seperti yang dialami Warsilah, pemilik warung makan Po’we. “orederan dari gojek pun tidak menentu. Sehari bisa Rp. 500.000 tapi kadang juga hanya dapat Rp. 50.000.” ungkapnya saat tengah mempersiapkan masakan untuk warungnya (21/10/20).

Pendapatan orderan ojek online ini, setidaknya mampu untuk membantu finansial dari warung makan tersebut. Pekerja warung makan lain, Doni (22), mengaku bahwa pendapatan saat pandemi ini bergantung pada pesanan ojol, “Selama pandemi warung mengandalkan pendapatan dari Go-food”. Meskipun demikian dirinya tetap bersyukur.  “Memang tidak banyak orderan seperti biasanya tetapi lumayan dari pada tidak ada pendapatan sama sekali,” ungkap laki-laki yang bekerja di Burjo Warmindo Ambucuy tersebut.

Senasib dengan Burjo Warmindo Ambucuy, warung makan OPJ yang berada di Jl. Beo Raya Timur, juga mengandalkan penjualan melalui ojek online, “Sebalum pandemi pun orderan dari Go-Food sangat ramai sekali,” kata Endang pemilik warung makan OPJ saat ditemui di kediamannya. Dia bercerita bahwa omset yang didapat tidak tentu bahkan turun drastis, sehingga saat pandemi seperti sekarang warungnya mengandalkan jasa ojek online.

Berbeda dengan tiga warung makan di atas, Aseh, pemilik warung makan Salsa, justru menutup total warungnya. Dia tidak mendaftarkan warung makannya di aplikasi ojek online. Bukan tanpa alasan, Aseh sempat meminta anaknya untuk mendaftarkan warungnya di Go-food, sayangnya, anaknya Aseh telat untuk mendaftar. “Mau bagaimana lagi, kalau dipikir-pikir pakai ojek online juga sepi soalnya mahasiswa juga belum balik ke kampus.” Ujar wanita 50 tahun tersebut.

Selain memanfaatkan ojek online dalam menjual daganganya, cara berbeda dilakukan oleh Rohmiati. Pemilik warung makan Seleraku ini, justur memanfaatkan whatsapp sebagai ajang mencari penghasilan. Dia menjajakan masakannya melalui status whatsapp, “Ya saya jual delivery order begitu, saya unggah foto masakan di status, kemudian kalau ada yang pesan, ya saya antar”.    Cara ini sudah dilakukannya setelah lebaran idulfitri 2020, agar tetap mendapatkan penghasilan.




 

 

Jumat, 18 September 2020

Bakso Beranak Penyelamat dari Sakit Telinga

 


Bakso beranak merupakan varian bakso yang baru dan kemudian viral di Indonesia (2017). Karena bakso ini ukurannya besar dan di dalamnya terdapat bakso yang lebih kecil. Hal ini lah penyebab julukannya menjadi bakso beranak. Seperti bakso pada umumnya, bakso beranak ini juga terdapat mie, sayuran dan tetunya kuah yang gurih.

Warung bakso beranak Vegaro ini terletak di Jl. Raya Sragen-Tangen. Tepatnya di dukuh Ngrejeng, Klandungan, Ngrampal, Sragen. lokasinya yang berada di pinggir jalan membuat orang-orang yang ingin makan tidak kesulitan untuk menemukannya.

Ada kejadian menarik dari pembeli bakso beranak di sini (9/8/20). Kejadian pertama dialami oleh Qoridatul (21), pada sore hari ia membeli bakso beranak dan memakannya di sana. “Pertama disajikan saya agak curiga, karena baksonya lebih kecil dari biasanya. Tetapi saya berpikir positif, mungkin harga daging sapi sedang naik” ujar Qoridatul, pelanggan bakso beranak tersebut. “ ketika saya buka bakso itu saya kaget, kok tidak ada anak nya ? lalu saya langsung tanya ke penjualnya. Bang.. ini kok anaknya gak ada ya ? ” lanjutnya. Dengan santai penjual bakso beranak tersebut menoleh dan menjawab “Oh.. keguguran tadi mbak,  jadi anaknya gak ada”. Sontak saja penjual dan pembeli lain yang ada di sana pun langsung tertawa.

Karena sudah sore biasanya stok bakso beranak di sana memang sudah habis. Pak No sebagai pemilik warung bakso bernak tersebut tidak langsung memberitahu kalau bakso beranaknya sudah habis karena Qoridatul hanya pesan bakso satu dan tidak ngomong jika yang dimaksud adalah bakso beranak. Qoridatul tidak memesan dengan kata-kata bakso beranak karena memang sudah langganan beli bakso disana dan Pak No sebenarnya juga sudah hafal.

Qoridatul pun bertanya lagi, “Terus.. dikubur dimana anaknya Pak ?”. Sebelum Pak No menjawab, ada pelanggan lain yang menyaut, “Di perut saya ini mbak..” sambil memakan bakso yang berukuran mungil. Ternyata seporsi bakso beranak terakhir dimakan oleh pembeli lain yang kebetulan masih berada di warung bakso beranak itu. Setelah itu Pak No melanjutkan “Monggo bunga tabur seikhlasnya mbak” sambil memberikan mangkok kosong yang kemudian langsung diambil lagi olehnya.

Kejadian kedua, ketika ada pengamen di warung bakso beranak tersebut. Pengamen tersebut tampak semangat bernyanyi karena ada banyak orang makan bakso. Kalau bernyanyi dengan semangat yang membara kan tentu saja banyak saweran yang didapat. Mungkin seperti itu pemikiran pelantun suara merdu tersebut.

Akan tetapi pemikiran pengamen tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan. Para pembeli merasa terganggu karena suara penyanyi jalanan tersebut terlalu keras. Hesti (19) lalu berdiri dari trmpatnya menyantap bakso beranak dan menghampiri penyanyi jalanan tersebut. “Bang.. jangan keras-keras nyanyinya, nanti anak saya nangis” sambil memberikan uang dan kembali ke tempat duduknya. Pengamen tersebut heran dan bertanya kepada Pak No, “Mana anaknya Pak?.. perasaan cuman makan berdua aja sama temennya”. Hesti yang mendengar pertanyaan dari pengamen tersebut kemudian menjawab “Ini di mangkok bang, barusan baru lahir”. Pak No hanya tertawa dan mengangguk, kemudian pengamen tersebut berlalu ke warung sebelah. Hal yang dilakukan oleh Hesti membuat pelanggan lain tertawa. Kemudian tempat makan tersebut jadi meriah karena ada suara tawa dari pembeli.

Lucu sekali cara Hesti dalam mengusir pengamen. Tanpa harus marah dan menyinggung perasaan pengamen juga. Jika Hesti hanya diam saja pengamen tersebut akan bernyayi lebih lama lagi. Bisa saja menganggu orang-orang yang sedang makan bakso juga karena suara penyanyi jalanan tersebut yang tidak begitu merdu namun keras. Atau malah membuat kehilangan selera untuk menikmati bakso beranak.

 

Rabu, 15 Juli 2020

UJIAN DI TENGAH PANDEMI, SISWA DIBUAT KEBINGUNGAN




Salah satu siswa MTs N 1 Karanganyar, Soffin Ganung Rahmatrisna menyebut ujian di tengah pendemi covid-19 membuat dirinya sangat kebingungan. Menurut dia, ujian yang seharusnya berjalan secara offline berubah menjadi online membuatnya bingung dengan sistem yang dipakai sekolah. sehingga ujian dirasa kuran maksimal. Ujian berlansung pada tanggal 13-16 april 2020.

“Ketika ujian terjadi kerumitan, karena baru pertama kalinya ujian daring. Saya pribadi merasa kebingungan dengan link yang diberikan guru,” ujar Soffin saat diwawancarai melakui Whatsapp, Selasa (14/7/2020).

Soffin menjelaskan, meskipun semua murid sudah siap untuk mengerjakan ujian akan tetapi perubahan sistem yang sangat tiba-tiba membuat para siswa kebingungan. Ada beberapa link ujian yang tidak bisa diakses oleh siswa. Sekolah tempatnya menimba ilmu dirasa masih kurang persiapan. Pantas saja disebut demikian karena memang pandemi ini terjadi secara tiba-tiba.

“Ada kendala lain yang saya alami saat ujian, yakni ketika akan mengunggah jawaban. Karena pada saat ujian secara offline saya hanya perlu memberikannya kepada pengawas. Berbanding terbalik ketika ujian menjadi online seperti ini,” tambah Soffin.

Pengunggahan jawaban ujian diberi waktu selama 1x24 jam. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada salah satu siswa yang jaringan internetnya buruk. Karena memang tidak semua siswa tinggal di kota. Ada beberapa siswa yang tinggal di desa dan terkadang jaringan menjadi buruk saat cuaca sedang tidak stabil.

Kendala-kendala yang telah disebutkan di atas menjadi penghalang siswa dalam mengerjakan ujian, “Saya menjadi malas ujian” sebut Soffian. Ujian dilaksanak secara online dan sistem yang belum dipahami oleh siswa membuat para siswa kehilangan semangat belajar.

Siswa dan guru hanya berkomunikasi melalui Whatsapp Group. Jadi, apabila terjadi kesalahan teknis guru akan memberi informasi kepada siswa melalui grup dan sebaliknya.

“Saya tidak memiliki kartu ujian, data kami sudah diinput oleh guru,” sebut Soffin. Ketika siswa akan melakukan ujian secara online, siswa hanya perlu memasukkan nama dan nomer absen saja. Tidak perlu mengunggah kartu ujian. Jadi hanya memasukkan nama dan nomer absen lalu selanjutnya mengerjakan soal ujian dan kemudian jawaban diunggah.

“Hasilnya nanti orang tua yang ambil di sekolah,” terang Soffin. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Soffin bahwasanya hasil ujian atau kelulusan diambil oleh orang tua. Tidak hanya itu saja, nilai rapot pun juga diberikan saat kelulusan. Orang tua yang mengambil hasil kelulusan juga harus mematuhi protokol kesehatan selama masa pandemi ini. Salah satunya memakai masker.


Minggu, 07 Juni 2020

Lebaran 2020 : LDR (Long Distance Relatioship)  Sragen-Semarang

 

 

Lebaran tahun ini sangat berbeda bagi Fifta, perawat klinik Prima Husada, di Sragen Jawa Tengah. Ia harus merayakan Idulfitri dengan serba kekurangan. “Saya punya saudara di Semarang. Mereka biasanya pulang setahun sekali saat lebaran seperti ini. Namun, tahun ini kami hanya bisa lebaran melalui video-call whatsapp.”

Fifta melaksanakan salat Idulfitri seperti biasanya. Setelah itu biasanya ia akan bersungkeman dengan seluruh saudara. Akan tetapi kali ini berbeda. Ia hanya bisa bersilaturahmi secara virtual. Perasaan nya campur aduk menjadi satu. Rasa senang karena sudah berpuasa selama satu bulan dan pada akhirnya bisa bertemu dengan lebaran. Ada pula rasa sedih karena tidak bisa bertatap muka dengan saudara karena pandemi Covid-19.

“Ini pengalaman pertama, karena tahun sebelumnya kami selalu lengkap” ujar Fifta (21). Ibunya memiliki saudara yang berjumlah lima orang. Sedangkan saudara yang tinggal di Semarang adalah anak terakhir. Dan keempat saudaranya memang tinggal di Ngrejeng, Sragen.

Pemerintah memutuskan untuk melarang masyarakat untuk mudik pada lebaran tahun 2020 ini. Karena ditakutkan virus ini akan menjadi lebih parah. Virus ini tidaklah terlihat, jadi bisa saja orang yang sedang mudik akan terpapar tanpa mereka sadari.

Tahun 2020 ini merupakan tahun terberat bagi Fifta, perawat di Klinik Prima Husada Sragen, Jawa Tengah. Perempuan ini kehilangan nenek dan tantenya dalam waktu yang berdekatan, Maret lalu. Ditambah dengan adanya virus corona ini membuat lebaran menjdi tidak lengkap.

“Bahkan selama bulan puasa kemarin, saya tidak bisa menjalankan solat tarawih berjamaah di Masjid. Pekerjaan saya membuat saya mendiskriminasi diri saya sendiri”. Fifta takut akan pandangan orang-orang yang solat di Masjid, karena pekerjaannya sebagai perawat di salah satu klinik swasta di Sragen.

Fifta menghabiskan bulan puasa sampai lebaran dengan perasaan yang sedih. Banyak hal yang tidak terbayangkan olehnya tiba-tiba terjadi. Seperti kehilangan tante, nenek, tidak bisa solat tarawih bejamaah di masjid dan puncaknya adalah ketika lebaran hanya bisa komunikasi melalui video call whatsapp.

“sedih dan sepi kesan lebaran tahun ini. Banyak kisah sedih yang saya lalui tahun ini”. Fifta sangat merindukan suasana lebaran tahun lalu. Dimana ia bisa bertemu, berkumpul, bersalaman, dan berpelukan deng semua saudara. Tidak LDR (Long Distance Relationship) seperti ini.

Sementara itu, bagi Meri, ibu rumah tangga di Sukodono Sragen, solat idulfitri merupakan ritual penting saat lebaran. “Alhamdulillah, saya tinggal di zona hijau jadi masih bisa solat di Masjid”. Namun tahun ini sepi karena tidak ada pemudik. Solat idulfitri hanya didatangi oleh penduduk sekitar tanpa ada orang dari luar, meskipun memiliki saudara di desa.

Meri megatakan bahwa, dilingkungan tempatnya tinggal tidak ada satupun pemudik dari luar kota. Jadi solat Idulfitri bisa dilaksanakan di Masjid. “Tidak ada lagi tradisi open house sehingga lebaran terasa sangat sepi.


Jumat, 01 Mei 2020

AKIBAT CORONA, WARGA NGREJENG BERJAGA DENGAN KENTONGAN


AKIBAT CORONA, WARGA NGREJENG 

BERJAGA DENGAN KENTONGAN

            



Ahmad (16) salah satu warga Ngrejeng Sragen, berjaga dengan 

kentongan setelah banyak maling berkeliaran di tengah 

merebaknya virus corona.


            “Kejadian ini berawal dari banyaknya tahanan yang dikeluarkan  dari dalam sel karena ada pandemi ini. Mereka tidak punya pekerjaan, apalagi karyawan banyak yang di-PHK. Mereka ingin menempuh jalan yang instan dengan menjadi maling”  ujar ketua RT, Warsidi yang diwawancarai dirumahnya.
            Warsidi mengatakan, warga ingin membuat kampung menjadi lebih aman. Salah satu caranya dengan ronda keliling. Alat yang mereka gunakan adalah kentongan. Warga mulai memukul kentongan saat malam hari. Suara kentongan, akan bersahut-sahutan anatara satu RT dengan RT lainnya. Hal ini menandakan, setiap RT sudah berjaga di pos ronda masing-masing. Kentongan ini terbuat dari bambu. Salah satu sisinya dilubangi agar suara yang dihasilkan lebih nyaring. Bambu sisa potongan lubang ini tidak dibuang, tetapi jadi alat pemukulnya. Suara kentongan, dirasa dapat membangunkan warga lain yang sudah tidur.


            “Mengingat ini adalah bulan puasa maka kentongan ada dua fungsi. Pertama, tanda bila ada maling. Dan yang kedua, untuk membangunkan orang sahur. Saya dan teman-teman keliling desa tiap jam 03.00 WIB. Untuk membangunkan sahur dan tentunya ronda. Kami berkeliling dua kali saat sahur. Setelah subuh kami akan pulang kerumah. Warga secara pribadi akan menjaga rumah mereka. Dan kami bergantian untuk tidur“ ujar Ahmad.
            Warga merasa lebih aman dengan adanya ronda malam seperti itu. Pemuda anggota karang taruna Ngrejeng juga ikut ronda. Mereka biasanya akan berkumpul di pos ronda yang dekat dengan rumahnya. Adanya para pemuda ini membuat suasana ronda menjadi lebih santai. Mereka akan membawa gitar dan bernyanyi untuk menghilangkan rasa kantuk. Warga yang tinggal dirumah juga biasanya memberi gorengan dan kopi. Keduanya diberikan untuk mengurangi rasa kantuk. Hal-hal seperti ini memang masih banyak dilakukan di desa. Mengingat orang-orang di desa kental akan rasa guyup rukun. Mereka tidak sungkan untuk meminta tolong dan memberi bantuan.

Rabu, 15 April 2020

TANGKAL CORONA DENGAN BERSEPEDA
16 April 20, 05.25





Apakah bersepeda menjadi olahraga pilihan anda?

Bersepeda merupakan olahraga yang muncul pada abad ke-19. Olahraga ini tentunya menggunakan sepeda sebagai alatnya. Akhir-akhir ini Indonesia sedang di landa pandemi virus corona. Penularannya yang sangat mudah dan dan tidak kasat mata membuat virus ini semakin memakan banyak korban. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena pemerintah memberlakukan WFH (work from home). Demikian juga dengan para pelajar yang harus SFH (study from home).

Pemerintah Sragen menganjurkan waraga untuk berolahraga, menjaga pola makan, menjaga kebersihan tubuh, rajin mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan menghindari kontak langsung dengan siapapun. Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Bersepeda menjadi salah satu pilihan olahraga yang dilakukan oleh waraga Ngrejeng. Olahraga ini dirasa dapat membantu mencegah penularan covid-19 karena di lakukan ketika pagi saat matahari bersinar, hal tersebut membuat orang-orang yang bersepeda melakukan dua kegiatan yakni olahraga dan berjemur.

Bersepeda merupakan salah satu kegiatan dengan intensitas rendah – sedang, karena bisa dilakukan di area rumah. Apalagi desa Ngrejeng banyak dikelilingi sawah, sehingga ketika berolahra dapat juga mencuci mata karena mendapatkan pemandangan yang indah dan menyejukkan pikiran juga. Ketika sedang ada pendemi seperti ini membuat warga menjadi kurang gerak, sehingga dapat menyebabkan berat badan naik dan menjadi pemicu penyakit berbahaya lainnya seperti diabetes, serangan jantung dan obesitas.



Sebelum melakukan aktivitas bersepeda, anda harus menggunakan pakaian yang tertutup, memakai helm untuk keselamatan dan memakai masker untuk mengurangi dampak terpapar virus dan polusi di jalan. ukuran sepeda yang lumayan panjang membuat anda bisa melakukan himbauan pemerintah yakni social distancing, yakni memberikan jarak antara seseorang dengan orang lain untuk meminimalisir penyebaran covid-19. “Saat bersepeda kita selalu jaga jarak dan pakai masker mbak” ujar tami, salah satu warga Ngrejeng.

“iya mbak, meskipun ketika jalan menanjak kita buka masker sementara karena ngos-ngosan” kata irfan, salah satu warga Ngrejeng yang aktif bersepeda. Ketika melewati jalan yang menanjak memang memerlukan tenaga yang lebih ekstra, selain itu juga membuat napas terasa berat.  Hal ini terjadi karena sebenarnya tubuh sedang membakar lemak dan keluarlah sebagai CO2 atau karbon dioksida bukan sebagai keringat. Karena keringaat diproduksi oleh tubuh karena adanya racun-racun dan air yang ada di tibuh. Maka dari itu kita menjadi haus, karena dehidrasi atau kekurangan air.

Rata-rata warga membawa botol minum mereka sendiri, dengan meletakkan pada bagian rak botol yang melekat pada bagian bawah sepeda mereka. Mereka bisa membawa sampai 1 liter untuk satu perlalanan. Minum yang mereka bawa juga tidaklah minuman yang aneh-aneh seperti minuman kemasan yang banyak beredar di pasaran. Mereka membawa air putih. Ada yang membawa air putih dingin dan ada yang membawa air putih biasa. Ketika haus mereka bisa langsung meminumnya tanpa harus membeli terlebih dahulu. Mengapa ? . Membawa air putih sendiri ini dirasa dapat mengurangi resiko terjangkit covid-19 karena mereka tidak bertransaksi dengan penjual dengan uang mereka. Bisa saja uang mereka sudah steril akan tetapi kembalian dari pembeli bisa saja terdapat kuman ataupun virus yang menempel. Dan ketika bertransaksi dengan penjual tentu saja mereka akan bersentuhan dengan penjual saat memberikan uang. “kan tidak mungkin saya beli minum uangnya saya lempar, kayak yang di tv-tv yang viral itu mbak” ujar tami.

Bersepeda adalah latihan fisik yang dapat menjaga keseimbangan hormon yang ada di otak seperti endorfin dan dopamin. seperti yang dlansir oleh www.alodokter.com endorfin merupakan zat kimia seperti morfin yang dapat dihasilkan secara alami oleh tubuh dan memiliki peran dalam membantu mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan positif. Sedangkan dopamin merupakan hormon yang bekerja sebagai pengirim sinyal di dalam otak manusia. Dopamin ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan pompa jantung dan aaliran daraha ke dalam ginjal. Orang-orang yang sedang WFH akan merasakan stress, bosan dan lain sebagainya hal ini dapat dikurangi dengan bersepeda. Imun yang baik juga tercipta dari pikiran atau sugesti kita masing-masing. Jadi kalau anda bahagia dan selalu memikirkan hal positif maka tubuh juga akan bekerja dengan baik dan positif juga. Hal ini sangat menguntungkan karena dapat membuat kita mencegah virus corona yang sedang melanda seluruh negara di dunia ini. Apalagi di Indonesia sudah banyak yang terjangkit virus tersebut dan gejalanya tidak tentu. Ada yang hanya batuk saja, tidak disertai demam dan sesak napas. Dan ada juga yang sesak napas dan kemudian dikira penyakit dalam lain.

Selasa, 10 Maret 2020


Resensi Film The Post (2017)







Pemain            : Meryl Streep, Tom Hanks, Bob Odenkirk, Matthew Rhys, Bruce Greenwood
Produser          : Kristie M. Krieger, Amy Pascal, Steven Spielberg
Sutradara         : Steven Spielberg
Penulis             : Liz Hannah, Josh Singer
Produksi          : DreamWorks, Amblin Entertainment
Durasi              : 1 jam, 56 menit


The Post adalah potret kegaduhan redaksi harian lokal yang meraih popularitas lewat kerja keras para stafnya. Ini salah satu film terbaik tahun 2017. Rahasianya, terletak pada kejelian Steven dalam menyusun kronologi kejadian dari dua jenis kecolongan. Pertama, AS kecolongan dokumen sensitif. Kedua, The Washington Post kalah cepat membangun koneksi dengan orang dalam pemerintahan sehingga dokumen berharga itu jatuh ke tangan koran tetangga.

Pemerintah AS bukannya mengakui kesalahan, malah menuntut balik The New York Times. Mereka lupa pers tak selamanya bisa dibungkam dan publik tak selamanya mau menutup mata atas ribuan tentara yang berkorban nyawa akibat perang. Sementara The Washington Post terus menata potongan teka-teki dan berhasil menggerakkan koran-koran lain untuk menyuarakan keresahan akibat perang. Usaha pemerintah menemui kegagalan. The Washington Post sebaliknya.

Menurut Saya film The Post ini sudah memenuhi 9 (sembilan) elemen jurnalisme, diantaranya :
1.      Kegiatan utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran. Hal ini dibuktikan oleh tokoh Daniel yang mengungkapkan kebenaran perang di Vietnam yang selama ini di tutupi oleh pemerintah.
2.      Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga negara. Terbukti setelah berita tentang perang di Vietnam mencuat ternyata banyak warga yang tidak tahu dan tidak sedikit pula para warga melakukan demo.
3.      Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Verifikasi sendiri adalah nyawa jurnalistik. Namun, dalam film post ini verifikasi tidak di lakukan dengan pemerintah akan tetapi dengan adanya dokumen rahasia pemerintah yang bocor ke tangan salah satu wartawan.
4.      Jurnalisme harus menjaga independensi dari objek liputannya. Wartawan di film ini saya rasa bersifat netral. Mereka memberitakan apa yang mereka temukan meskipun menentang pemerintahan.
5.      Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan. Dalam hal ini pemerintah AS tidak mengakui kesalahan bahwa mereka telah menyembunyikan kebenaran, akan tetapi mereka malah balik menuntut The New York Times atas apa yang telah mereka beritakan.
6.      Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk mengkritik maupun dukungan warga.
7.      Jurnalis harus berusaha membuat hal terpenting menjadi menarik dan relevan. Hal tersebut dapat dilihat pada saat ada pemberitaan perang di Vietnam yang selama ini di sembunyikan oleh pemerintah AS.
8.      Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional.
9.      Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Selasa, 25 Februari 2020

KH MAS MANSYUR BERMAIN BANTAL


 

KH Mas Mansyur adalah seorang tokoh islam dan pahlawan nasional Indonesia. KH Mas Mansyur dikenal sebagai seorang kyai yang menjadi tokoh "Empat Serangkai" yang beranggotakan Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Ia lahir pada tanggal 25 Juni 1896 di Surabaya. KH Mas Mansyur merupakan anak dari seorang ibu bernama Raudhah dan ayahnya bernama KH Mas Achmad Marzoeqi yang merupakan pelopor islam juga. Ibunya merupakan seseorang yang kaya raya sedangkan ayahnya merupakan keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura. KH Mas Mansyur merupakan tokoh yang religius karena lahir dan tumbuh di lingkungan yang religius, mengingat ayahnya adalah seorang imam tetap dan khatib di masjid Ampel. 
KH Mas Mansyur menjadi seorang santri di Pesantren Sidoresmo dan Kyai Muhammad Thata sebagai gurunya. Ia dikenal sebagai murid yang cerdas, suka membaca dan mau mendengarkan nasihat. Ia sudah memiliki bakat kepimpinan sejak kecil. Hal itu terlihat saat ia bermain. Ia berpersan sebagai seorang gur dan adapun bantal-bantal yang ada digunakan sebagai ilustrasi muridnya.