Jumat, 01 Mei 2020

AKIBAT CORONA, WARGA NGREJENG BERJAGA DENGAN KENTONGAN


AKIBAT CORONA, WARGA NGREJENG 

BERJAGA DENGAN KENTONGAN

            



Ahmad (16) salah satu warga Ngrejeng Sragen, berjaga dengan 

kentongan setelah banyak maling berkeliaran di tengah 

merebaknya virus corona.


            “Kejadian ini berawal dari banyaknya tahanan yang dikeluarkan  dari dalam sel karena ada pandemi ini. Mereka tidak punya pekerjaan, apalagi karyawan banyak yang di-PHK. Mereka ingin menempuh jalan yang instan dengan menjadi maling”  ujar ketua RT, Warsidi yang diwawancarai dirumahnya.
            Warsidi mengatakan, warga ingin membuat kampung menjadi lebih aman. Salah satu caranya dengan ronda keliling. Alat yang mereka gunakan adalah kentongan. Warga mulai memukul kentongan saat malam hari. Suara kentongan, akan bersahut-sahutan anatara satu RT dengan RT lainnya. Hal ini menandakan, setiap RT sudah berjaga di pos ronda masing-masing. Kentongan ini terbuat dari bambu. Salah satu sisinya dilubangi agar suara yang dihasilkan lebih nyaring. Bambu sisa potongan lubang ini tidak dibuang, tetapi jadi alat pemukulnya. Suara kentongan, dirasa dapat membangunkan warga lain yang sudah tidur.


            “Mengingat ini adalah bulan puasa maka kentongan ada dua fungsi. Pertama, tanda bila ada maling. Dan yang kedua, untuk membangunkan orang sahur. Saya dan teman-teman keliling desa tiap jam 03.00 WIB. Untuk membangunkan sahur dan tentunya ronda. Kami berkeliling dua kali saat sahur. Setelah subuh kami akan pulang kerumah. Warga secara pribadi akan menjaga rumah mereka. Dan kami bergantian untuk tidur“ ujar Ahmad.
            Warga merasa lebih aman dengan adanya ronda malam seperti itu. Pemuda anggota karang taruna Ngrejeng juga ikut ronda. Mereka biasanya akan berkumpul di pos ronda yang dekat dengan rumahnya. Adanya para pemuda ini membuat suasana ronda menjadi lebih santai. Mereka akan membawa gitar dan bernyanyi untuk menghilangkan rasa kantuk. Warga yang tinggal dirumah juga biasanya memberi gorengan dan kopi. Keduanya diberikan untuk mengurangi rasa kantuk. Hal-hal seperti ini memang masih banyak dilakukan di desa. Mengingat orang-orang di desa kental akan rasa guyup rukun. Mereka tidak sungkan untuk meminta tolong dan memberi bantuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar