Minggu, 07 Juni 2020

Lebaran 2020 : LDR (Long Distance Relatioship)  Sragen-Semarang

 

 

Lebaran tahun ini sangat berbeda bagi Fifta, perawat klinik Prima Husada, di Sragen Jawa Tengah. Ia harus merayakan Idulfitri dengan serba kekurangan. “Saya punya saudara di Semarang. Mereka biasanya pulang setahun sekali saat lebaran seperti ini. Namun, tahun ini kami hanya bisa lebaran melalui video-call whatsapp.”

Fifta melaksanakan salat Idulfitri seperti biasanya. Setelah itu biasanya ia akan bersungkeman dengan seluruh saudara. Akan tetapi kali ini berbeda. Ia hanya bisa bersilaturahmi secara virtual. Perasaan nya campur aduk menjadi satu. Rasa senang karena sudah berpuasa selama satu bulan dan pada akhirnya bisa bertemu dengan lebaran. Ada pula rasa sedih karena tidak bisa bertatap muka dengan saudara karena pandemi Covid-19.

“Ini pengalaman pertama, karena tahun sebelumnya kami selalu lengkap” ujar Fifta (21). Ibunya memiliki saudara yang berjumlah lima orang. Sedangkan saudara yang tinggal di Semarang adalah anak terakhir. Dan keempat saudaranya memang tinggal di Ngrejeng, Sragen.

Pemerintah memutuskan untuk melarang masyarakat untuk mudik pada lebaran tahun 2020 ini. Karena ditakutkan virus ini akan menjadi lebih parah. Virus ini tidaklah terlihat, jadi bisa saja orang yang sedang mudik akan terpapar tanpa mereka sadari.

Tahun 2020 ini merupakan tahun terberat bagi Fifta, perawat di Klinik Prima Husada Sragen, Jawa Tengah. Perempuan ini kehilangan nenek dan tantenya dalam waktu yang berdekatan, Maret lalu. Ditambah dengan adanya virus corona ini membuat lebaran menjdi tidak lengkap.

“Bahkan selama bulan puasa kemarin, saya tidak bisa menjalankan solat tarawih berjamaah di Masjid. Pekerjaan saya membuat saya mendiskriminasi diri saya sendiri”. Fifta takut akan pandangan orang-orang yang solat di Masjid, karena pekerjaannya sebagai perawat di salah satu klinik swasta di Sragen.

Fifta menghabiskan bulan puasa sampai lebaran dengan perasaan yang sedih. Banyak hal yang tidak terbayangkan olehnya tiba-tiba terjadi. Seperti kehilangan tante, nenek, tidak bisa solat tarawih bejamaah di masjid dan puncaknya adalah ketika lebaran hanya bisa komunikasi melalui video call whatsapp.

“sedih dan sepi kesan lebaran tahun ini. Banyak kisah sedih yang saya lalui tahun ini”. Fifta sangat merindukan suasana lebaran tahun lalu. Dimana ia bisa bertemu, berkumpul, bersalaman, dan berpelukan deng semua saudara. Tidak LDR (Long Distance Relationship) seperti ini.

Sementara itu, bagi Meri, ibu rumah tangga di Sukodono Sragen, solat idulfitri merupakan ritual penting saat lebaran. “Alhamdulillah, saya tinggal di zona hijau jadi masih bisa solat di Masjid”. Namun tahun ini sepi karena tidak ada pemudik. Solat idulfitri hanya didatangi oleh penduduk sekitar tanpa ada orang dari luar, meskipun memiliki saudara di desa.

Meri megatakan bahwa, dilingkungan tempatnya tinggal tidak ada satupun pemudik dari luar kota. Jadi solat Idulfitri bisa dilaksanakan di Masjid. “Tidak ada lagi tradisi open house sehingga lebaran terasa sangat sepi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar