Lebaran 2020 : LDR (Long
Distance Relatioship) Sragen-Semarang
Lebaran tahun ini sangat berbeda bagi Fifta, perawat
klinik Prima Husada, di Sragen Jawa Tengah. Ia harus merayakan Idulfitri dengan
serba kekurangan. “Saya punya saudara di Semarang. Mereka biasanya pulang
setahun sekali saat lebaran seperti ini. Namun, tahun ini kami hanya bisa
lebaran melalui video-call whatsapp.”
Fifta melaksanakan salat Idulfitri seperti biasanya. Setelah
itu biasanya ia akan bersungkeman dengan seluruh saudara. Akan tetapi kali ini
berbeda. Ia hanya bisa bersilaturahmi secara virtual. Perasaan nya campur aduk
menjadi satu. Rasa senang karena sudah berpuasa selama satu bulan dan pada
akhirnya bisa bertemu dengan lebaran. Ada pula rasa sedih karena tidak bisa
bertatap muka dengan saudara karena pandemi Covid-19.
“Ini pengalaman pertama, karena tahun sebelumnya kami
selalu lengkap” ujar Fifta (21). Ibunya memiliki saudara yang berjumlah lima
orang. Sedangkan saudara yang tinggal di Semarang adalah anak terakhir. Dan keempat
saudaranya memang tinggal di Ngrejeng, Sragen.
Pemerintah memutuskan untuk melarang masyarakat untuk
mudik pada lebaran tahun 2020 ini. Karena ditakutkan virus ini akan menjadi
lebih parah. Virus ini tidaklah terlihat, jadi bisa saja orang yang sedang
mudik akan terpapar tanpa mereka sadari.
Tahun 2020 ini merupakan tahun terberat bagi Fifta, perawat
di Klinik Prima Husada Sragen, Jawa Tengah. Perempuan ini kehilangan nenek dan
tantenya dalam waktu yang berdekatan, Maret lalu. Ditambah dengan adanya virus
corona ini membuat lebaran menjdi tidak lengkap.
“Bahkan selama bulan puasa kemarin, saya tidak bisa
menjalankan solat tarawih berjamaah di Masjid. Pekerjaan saya membuat saya
mendiskriminasi diri saya sendiri”. Fifta takut akan pandangan orang-orang yang
solat di Masjid, karena pekerjaannya sebagai perawat di salah satu klinik
swasta di Sragen.
Fifta menghabiskan bulan puasa sampai lebaran dengan
perasaan yang sedih. Banyak hal yang tidak terbayangkan olehnya tiba-tiba
terjadi. Seperti kehilangan tante, nenek, tidak bisa solat tarawih bejamaah di
masjid dan puncaknya adalah ketika lebaran hanya bisa komunikasi melalui video call whatsapp.
“sedih dan sepi kesan lebaran tahun ini. Banyak kisah
sedih yang saya lalui tahun ini”. Fifta sangat merindukan suasana lebaran tahun
lalu. Dimana ia bisa bertemu, berkumpul, bersalaman, dan berpelukan deng semua
saudara. Tidak LDR (Long Distance
Relationship) seperti ini.
Sementara itu, bagi Meri, ibu rumah tangga di Sukodono
Sragen, solat idulfitri merupakan ritual penting saat lebaran. “Alhamdulillah,
saya tinggal di zona hijau jadi masih bisa solat di Masjid”. Namun tahun ini
sepi karena tidak ada pemudik. Solat idulfitri hanya didatangi oleh penduduk
sekitar tanpa ada orang dari luar, meskipun memiliki saudara di desa.
Meri megatakan bahwa, dilingkungan tempatnya tinggal
tidak ada satupun pemudik dari luar kota. Jadi solat Idulfitri bisa
dilaksanakan di Masjid. “Tidak ada lagi tradisi open house sehingga lebaran terasa sangat sepi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar