Rabu, 27 Januari 2021

Jumpa Fans Dadakan Seleb Tiktok Asal Solo Ini Diancam Kurungan


Diduga melanggar Undang-undang Karantina Kesehatan, artis Tiktok asal kota Solo ini, terancam kurungan penjara selama satu tahun 


Minggu, 24 Januari 2021 lalu, i-Club kota Madiun didatangi oleh artis Tiktok yang sedang naik daun di kalangan remaja belakangan ini. Artis Tiktok bernama Viens Boys ini datang untuk melakukan kerjasama review makanan dengan pihak i-Club. Liony Mayestika selaku Manager Viens Boys juga mengatakan bahwasanya ketika datang di Madiun, sejumlah fans sudah berada disana. Viens Boys terpaksa untuk menyapa para fans karena ada beberapa fans ada yang sudah histeris ketika rombongan artis Tiktok ini datang. Sang Manager juga mengatakan untuk tidak berkerumun.

Viens Boys dianggap melanggar protokol kesehatan (prokes) yang sedang diberlakukan di kota Madiun. Viens Boys juga diancam kurungan penjara apabila terbukti melanggar Undang-undang Kekarantinaan Kesehatan. Pemeriksaan  dilaksanakan secara maraton pada minggu (24/1) malam dengan pihak yang bersangkutan yakni para personil Viens Boys dan Manager. AKBP Dewa Putu Eka Darmawan selaku Kapolres Madiun Kota menyampaikan “Tadi malam (minggu) sudah dilakukan pemeriksaan secara maraton, kemudian tadi pagi (senin) digelarkan.” 

Sumber Gambar : akun Instagram @viensboys.ofc

Kota Madiun saat ini sedang melaksanakan program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan tujuan untuk menekan angka peningkatan penularan Covid-19. Viens Boys dapat dijerat hukuman satu tahun penjara jika melaggar UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular atau UU nomor 6 Thun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Karena dianggap melanggar program PPKM yang sedang berjalan. 

Viens Boys sendiri merupakan seleb Tiktok yang sedang digandrungi oleh kalangan remaja. Mereka merupakan orang-orang yang ingin mengenalkan budaya Jawa Tengah kepada publik. Mereka ingin mengikuti jejak Bayu Skak yang telah terkenal terlebih dahulu. Bayu Eko Moektito atau yang lebih dikenal dengan nama Bayu Skak ini merupakan salah satu konten kreator asal Malang, Jawa Timur yang terkenal dengan memamerkan budaya asal daerahnya.

    Dilansir dari JTV Madiun, Manager Viens Boys mengatakan bahwa pihak mereka tidak melaksanakan jumpa fans dengan sengaja. Kedatangan Viens Boys ke Madiun semata-mata hanyalah untuk melakukan kerjasama dengan restoran i-Club. Ia menambahkan bahwasanaya di sana tidak ada panggung, di belakang para personil Vies Boys hanyalah sebuah kursi panjang. Viens Boys seharusnya melakukan review  makanan di dalam gedung yang berada tepat dibelakang mereka menyapa para fans. 

Sumber Gambar : Dyah Ayu Arini


    Dikutip dari Satgas Penanganan Covid-19, covid19.go.id kasus Covid-19 di Indonesia pada tanggal 27 Januari 2021 ini telah terkonfirmasi positif sebanyak 1.024.298 jiwa dan yang sudah sembuh 831.330 jiwa, sedangkan yang meninggal sebanyak 28.855 jiwa. Karena tingginya kasus orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 masih banyak sekali masyarakat yang masih tidak peduli dengan protokol kesehatan. Salah satunya adalah kasus Viens Boys ini. Tindakan yang dilakukan oleh para fans sangatlah tidak baik untuk dicontoh. Mereka rela untuk berkerumun dan tidak menerapkan protokol kesehatan demi bertemu dengan idoa mereka. Apabila kerjadian seperti ini terus terjadi, dapat merugikan berbagi pihak termasuk Indonesia.

Tidak hanya peristiwa Viens Boys yang terpaksa menyapa para fans dan membuat adanya kerumunan di tempat umum. Sekarang ini masih banyak tempat nongkrong anak muda yang belum menerapka protokol kesehatan. Masih banyak yang tidak menjaga jarak dan memakai masker. Tentu ini juga menjadi PR lagi bagi pemerintah yang seharusnya menindaklanjuti kejadian seperti ini. PPKM akan lebih efektif apabila masyarakat bisa bekerjasama dengan pemerintah dalam berjalannya program tersebut. Dalam pelaksanaan PPKM warung-warung atupun tempat makan seharusnya hanya buka sampai jam 19.00 saja. Namun, pada kenyataanya masih banyak warung yang buka sampai larut malam. Bahkan ada yang baru buka pada malam hari.


Sumber : 

Satgas Penanganan Covid-19

JTV Madiun


Minggu, 24 Januari 2021

Nyeri Haid Sembuh, Para Wanita Harus Tau Manfaat Rempah Ini


Sumber Gambar : Dyah Ayu Arini

Pada umumnya wanita mengalami menstrulasi atau haid setiap 21 hingga 35 hari sekali. Haid ini berlangsung antara satu sampai dua minggu. Akan tetapi ada beberapa wanita yang mengalami haid selama tiga atau empat hari saja.

Saya akhirnya mengalami haid. Hal ini biasa terjad pada saya selama sebulan sekali. Akan tetapi terkadang dua bulan sekali baru mengalami haid lagi. Pada awalnya saya termasuk orag-orang yang mengalami haid tanpa ada rasa sakit. Namun, laama-kelamaan sakit itu menghampiri saya. Hari pertama dan kedua haid adalah hari yang cukup berat, karena haid ini membuat perut saya sangat sakit. Tidak haya sakit perut saja terkadang juga disertai dengan lemas, keringat digin yang keluar dan rasa mual.

Tingga di desa memang dipandang sebelah mata. Karena dianggap masih kuno dan tidak modern. Akan tetapi tinggal di desa ternyata memberikan banyak keuntungan. Salah satunya ketika sakit ada tetangga yang mau membantu. Berbeda ketika tinggal di kota, diharuskan mandiri dengan cara memanggil dokter ke rumah ataupun langsung berangkat ke rumah sakit sendiri. 

Ketika mengalami haid, salah satu tetangga menyarankan untuk mengkonsumsi temu putih. Selain temu putih orang-orang juga memnggilnya dengan sebutan kunyit putih. Tanaman herbal ini cukup asing di telinga. Karena selama ini temu ini tidak memiliki embel-embel kata “putih”. Temu biasaya berwara kuning dan sering digunakan sebagai pewarna alami dan juga sebagai jamu yang memiliki banyak manfaat. Rasa dari temu sediri masih khas degan rasa rempah Indonesia. Berbanding terbalik dengan temu putih. Rasanya yang aneh dan getar membuat sebagian orang tidak suka mengkonsumsinya. Sesuai dengan namanya temu ini berwana putih pucat agak kuning. Berbeda dengan temu biasa yang berwarna kuning menyala.

Dilansir dari Wikipedia temu putih ini memiliki kandugan zat warna kuning kurkumin (diarilheptanoid). Komponen minyak atsiri dari rimpangnya terdiri dari turunan Guaian (kurkumol, kurkumenol, Isokurkumenol, Prokurkumenol, Kurkurnadiol), turunan Germakran (Kurdion, Dehidrokurdion); seskuiterpena furanoid dengan kerangka eudesman (Kurkolon). Kerangka Germakran (Furanodienon, Isofuranodienon, Zederon, Furanodien, Furanogermenon); kerangka Eleman (Kurserenon identik dengan edoaron, Epikurserenon, Isofurano germakren); Asam-4-metoksi sinamat (bersifat fungistatik). Dari hasil penelitian lain ditemukan kurkumanolid A, kurleumanolid B, dan kurkumenon.  

Sumber Gambar : Wikipedia

Tubuhan bernama latin Curcuma Zedoaria Roscoe (Christm) ini memang tidak sepopuler kunyit. Akan tetapi manfaat yang dihasilkan dari empon-empon satu ini cupuk banyak. Salah satunya adalah nyeri haid. Berdasarkan hasil peelitian yang dilaksanakan oleh Sari (2020) DKK. dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Air Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria Roscoe)” pada Pengurangan Dismenore Primer menunjukkan bahwa responden yang mengkonsumsi ekstrak air kunyit putih mengalami penurunan nyeri dismenore, teorinya kunyit putih mengandung minyak atsiri yang mengandung Ar-Turmeron dan β-Turmeron dapat menurunkan nyeri haid atau anti nyeri dan mengurangi ekskresi kadar prostaglandin.

Berdasar atas hasil penelitian tersebut didapat skala nyeri disemenore rata-rata pada pre test adalah skor 4.700 termasuk dismenore primer sedang setelah diberikan ekstrak air kunyit putih yang pertama ada perubahan skala nyeri dismenore, sebelumnya skor 4.700 menjadi 3.620 (terdapat penurunan skor sebanyak 1.08) sedangkan setelah diberikan ekstrak air kunyit putih yang kedua menjadi 2.350 ( terdapat penurunan skor NSR sebanyak 2,35) termasuk kategori dismenore ringan. Kandungan minyak atsiri dan curcumin dalam 200 gram adalah sebesar 2.36%, hal ini menunjukan tingginya kandungan minyak atsiri pada kunyit putih.

 

 

Selasa, 17 November 2020

KARANG TARUNA NGREJENG SIBUK MENGHASILKAN CUAN

 

Sumber : Dyah Ayu Arini


Karang Taruna mengalami kesulitan dana, menanam pohon pisang menjadi alternatif penyelesaian masalah.

Ngrejeng merupakan salah satu dukuh yang terletak di bangian utara kabupaten Sragen, alamat lengkapnya yakni Ngrejeng, Klandungan, Ngrampal, Sragen. Karang taruna di dukuh Ngrejeng bernama Bhina Remaja. Sesuai dengan namanya, organisasi ini diharapkan bisa membuat kalangan muda lebih baik.

Masa pandemi seperti ini memiliki dampak yang sangat besar. Tidak hanya pada individu namun juga berdampak untuk organisasi. Karang taruna Bhina Remaja Ngrejeng salah satunya. Pemasukan kas menjadi berkurang. Ketika sebelumnya mereka mendapatkan pemasukan dari dana parkir saat ada pasar malam, kini menjadi tidak ada sama sekali. Pemasukan kas hanya bergantung pada iuran anggotanya saja. sedangkan anggota yang aktif mengikuti kegiatan hanyalah sedikit, sekitar 50%, jelas Afik (27) selaku ketua karang taruna.

Permasalahan seperti ini jika dibiarkan terus menerus juga tidak baik. Akhirnya pada saat rapat dan arisan rutin anggota dan ketua karang taruna setuju untuk membuat terobosan baru yakni menananm pohon pisang. Tentu tidak mudah karena sebagian besar anggota karang taruna merupakan siswa. Para anggota belum memiliki pengalaman dalam menanam pohon pisang. “Jadinya kami tanya sama sesepuh, yakni Mbah Google” ucap Afik selaku ketua Karang Taruna Bhina Remaja Ngrejeng. “Beliau tidak marah ketika kami bertanya panjang lebar.. malah menjelaskan secara rinci tanpa kami minta” tambah Roni (21) saat ditemui di kediamannya.

Bibit pohon pisang yang didapatkan berasal dari kebun warga. Lahan yang dipakai juga merupakan kas warga Ngrejeng. Hal ini merupakan cuan untuk Karang Taruna Bhina Remaja Ngrejeng karena hanya bermodal usaha saja mereka dapat mengisi uang kas kembali. Harga buah pisang dipasaran juga lumayan tinggi, sedangkan penanamannya tidak membutuhkan banyak modal. Ini membuat organisasi remaja ini mendapatkan cuan lebih lagi. “Harga buah pisang satu tundun bisa sampai 80ribu, di kali 15 pohon.. cuan lagi kan mbak” papar Afik. “Apalagi kalo pisangnya mungil seperti unyil, bisa jadi konsumsi saat rapat mbak” Ujar Roni menambahkan.

Karang taruna ini memang rutin melakukan rapat setiap dua minggu sekali. Uang kas yan dikumpulkan digunakan untuk membuat undangan rapat dan membeli konsumsi. Sekali rapat bisa menghabiskan uang 50 ribu. Ketika ada pohon pisang yang buahnya kecil dan ketika dijual tidak laku maka akan menjadi konsumsi saat rapat. Cuan kembali didapatkan karena tidak perlu membeli makanan untuk konsumsi.

infografis : 

Tambahkan teks


Jumat, 23 Oktober 2020

TUTUP HINGGA NAIKKAN GAJI KARYAWAN, INILAH KISAH WARUNG MAKAN SAAT PANDEMI DI KAMPUS 1 UMS

 




Nasib Pemilik Warung di Sekitar UMS Selama Masa Pandemi

Pandemi covid-19 tidak hanya menghilangkan banyak nyawa, tetapi juga menghilangkan banyak mata pencaharian. Salah satu yang mengalaminya adalah pemilik warung makan. Mereka terpaksa mengurangi gaji karyawan, memecat karyawan hingga menutup warung makannya.

            Hal  ini di rasakan pula oleh sejumlah pemilik warung di kawasan kampus 1 UMS. Aseh (51), pemilik warung makan Salsa yang berada di Jl. Gatak III ini, awal masa pandemi warung nya masih berjualan, namun karena sepinya pelanggan, 7 bulan terakhir warung Salsa terpaksa tutup. Wanita bertubuh tambun ini bercerita mengenai kondisi warungnya, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, “Iya biasanya warung saya ramai sama mahasiswa, tapi sekarang ya mau gak mau harus tutup karena modalnya tidak ada untuk membeli bahan masakan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya (21/10/20). Warung makan ini menjadi penghasilan utama Aseh dan keluarganya. Namun karena pandemi, ekonomi Aseh hanya bertumpu pada penghasilan suaminya yang bekerja sebagai tukang tambal ban serta anaknya yang bekerja di pabrik.




Kondisi rumah makan Salsa (21/10/20). Foto dokumen penulis

 

            Nasib serupa juga dialami oleh Rohmiati. Pemilik warung makan di Jl Gatak 1 ini, terpaksa menutup warung yang sudah didirikannya selama 10 tahun karena tidak ada pembeli. Mei 2020, Rohmiati berusaha melanjutkan bisnisnya, dengan cara pesan antar makanan. “warung saya tidak buka, tapi saya sering buat status di whatsapp, isinya ya menu seperti mie goreng, pecel lele, sop matahari, nasi goreng, teamlo”.  Karena keterbatasan finansial, semula warung makan ini memiliki 2 karyawan, tetapi di bulan Maret para karyawan ini terpaksa diberhentikan. Akhirnya para karyawan mencari pekerjaan lain, salah satunya ada yang beralih menjadi petani.



Warung makan Seleraku tutup saat pandemi. Foto dokumen penulis

 

Sedikit berbeda dari Aseh dan Rohmiati, Warsilah memilih untuk tetap membuka warungnya meski pendapatannya menurun. Pemilik warung makan Po’we yang berada di Jl. Tanuragan ini, sudah berjualan lauk dan nasi sejak 2015. Alasannya untuk tetap membuka warung makan adalah ketiadaan mata pencaharian lain, di samping itu Warsilah juga harus membayar sewa warungnya sebesar 18 juta/tahun. Bahkan selama pandemi warung yang biasanya tutup sore  buka hingga malam hari.  Ya,  mau gimana lagi. Saya juga harus pintar putar uang. Ya penghasilannya hanya cukup untuk makan, cicil kontrakan, dan modal dagang lagi,” ungkap wanita berumur 50 tahun saat diwawancari di warungnya.  Agar dapat terus berjualan, Warsilah mengurangi dagangannya sesuai dengan modal yang ia miliki. “Saya harus cari sayur yang murah tapi bagus. Terus saya juga belinya di tempat yang murah dekat bandar asana. Kalau di pasar Kleco itu mahal.”




Wawancara pemilik warung makan Po’we yang sedang memasak (21/10/20). Foto dokumen penulis.

 

            Doni (22) Karyawan di Burjo Warmindo Ambucuy, mengaku gajinya tidak berkurang meski sedang pandemi. Warung makan yang berada di Jl. Beo Raya Timur masih tetap buka, tidak ada pengurangan menu namum setengah karyawannya di PHK. “Iya awalnya itu ada 8, pas pandemi secara bertahap pemilik warung  memecat 4 orang karyawannya,” ungkap pria muda berambut keriting itu (21/10/20). 

            Berbeda dari empat cerita di atas, warung OPJ tetap buka dengan menu yang sama banyaknya, bahkan pemilik warung mempertahankan dan menaikkan gaji karyawannya. “Karyawan saya tetap 6, sebenarnya bisa saja saya kurangi, tapi kasihan karena kan mereka juga butuh makan, ujar Bu Endang saat ditemui dikediamannya. Biasanya warung buka sampai pukul 14.00 WIB saat pandemi ini warung buka sampai pukul 21.00 WIB. Sistem kerjannya pun berbeda, saat ini karyawan bekerja dengan sistem shift. Tiga karyawan kerja pukul 06.00 – 14.00 WIB, 3 lainnya bekerja mulai pukul 14.00 – 21.00 WIB. Jika warung lain mengurangi gaji hingga memecat karywan pemilik warung ini justru menaikkan gaji karyawannya. Sebelum pandemi karyawan 5 ribu/jam sekarang mereka digaji 6 ribu/jam. Hal ini karena rasa kasihan pemiliknya.

            Meski berbeda kisah dan nasib, semua pemilik warung makan memiliki harapan yang sama terkait covid-19. Mereka berharap agar pandemi cepat usai dan semua kegiatan dapat berjalan normal. Dengan demikian, mereka juga dapat memiliki finansial yang cukup untuk terus melanjutkan hidup.

Alternatif Penjualan Warung Makan saat Pandemi

Sebelum pandemi, rasanya jualan makanan via online sudah hal yang biasa. Namun, baru-baru ini banyak pemilik warung makan yang awalnya hanya melayani jual beli langsung, ikut pula menjual dagangannya secara online, baik dengan sistem ojol (ojek online) atau pun DO (delivery order). Sejumlah warung makan ini di kawasan kampus 1 UMS pun banyak yang beralih menggunakan sistem online.

            Pendapatan melalui sistem ojek online juga tidak menentu. Seperti yang dialami Warsilah, pemilik warung makan Po’we. “orederan dari gojek pun tidak menentu. Sehari bisa Rp. 500.000 tapi kadang juga hanya dapat Rp. 50.000.” ungkapnya saat tengah mempersiapkan masakan untuk warungnya (21/10/20).

Pendapatan orderan ojek online ini, setidaknya mampu untuk membantu finansial dari warung makan tersebut. Pekerja warung makan lain, Doni (22), mengaku bahwa pendapatan saat pandemi ini bergantung pada pesanan ojol, “Selama pandemi warung mengandalkan pendapatan dari Go-food”. Meskipun demikian dirinya tetap bersyukur.  “Memang tidak banyak orderan seperti biasanya tetapi lumayan dari pada tidak ada pendapatan sama sekali,” ungkap laki-laki yang bekerja di Burjo Warmindo Ambucuy tersebut.

Senasib dengan Burjo Warmindo Ambucuy, warung makan OPJ yang berada di Jl. Beo Raya Timur, juga mengandalkan penjualan melalui ojek online, “Sebalum pandemi pun orderan dari Go-Food sangat ramai sekali,” kata Endang pemilik warung makan OPJ saat ditemui di kediamannya. Dia bercerita bahwa omset yang didapat tidak tentu bahkan turun drastis, sehingga saat pandemi seperti sekarang warungnya mengandalkan jasa ojek online.

Berbeda dengan tiga warung makan di atas, Aseh, pemilik warung makan Salsa, justru menutup total warungnya. Dia tidak mendaftarkan warung makannya di aplikasi ojek online. Bukan tanpa alasan, Aseh sempat meminta anaknya untuk mendaftarkan warungnya di Go-food, sayangnya, anaknya Aseh telat untuk mendaftar. “Mau bagaimana lagi, kalau dipikir-pikir pakai ojek online juga sepi soalnya mahasiswa juga belum balik ke kampus.” Ujar wanita 50 tahun tersebut.

Selain memanfaatkan ojek online dalam menjual daganganya, cara berbeda dilakukan oleh Rohmiati. Pemilik warung makan Seleraku ini, justur memanfaatkan whatsapp sebagai ajang mencari penghasilan. Dia menjajakan masakannya melalui status whatsapp, “Ya saya jual delivery order begitu, saya unggah foto masakan di status, kemudian kalau ada yang pesan, ya saya antar”.    Cara ini sudah dilakukannya setelah lebaran idulfitri 2020, agar tetap mendapatkan penghasilan.




 

 

Jumat, 18 September 2020

Bakso Beranak Penyelamat dari Sakit Telinga

 


Bakso beranak merupakan varian bakso yang baru dan kemudian viral di Indonesia (2017). Karena bakso ini ukurannya besar dan di dalamnya terdapat bakso yang lebih kecil. Hal ini lah penyebab julukannya menjadi bakso beranak. Seperti bakso pada umumnya, bakso beranak ini juga terdapat mie, sayuran dan tetunya kuah yang gurih.

Warung bakso beranak Vegaro ini terletak di Jl. Raya Sragen-Tangen. Tepatnya di dukuh Ngrejeng, Klandungan, Ngrampal, Sragen. lokasinya yang berada di pinggir jalan membuat orang-orang yang ingin makan tidak kesulitan untuk menemukannya.

Ada kejadian menarik dari pembeli bakso beranak di sini (9/8/20). Kejadian pertama dialami oleh Qoridatul (21), pada sore hari ia membeli bakso beranak dan memakannya di sana. “Pertama disajikan saya agak curiga, karena baksonya lebih kecil dari biasanya. Tetapi saya berpikir positif, mungkin harga daging sapi sedang naik” ujar Qoridatul, pelanggan bakso beranak tersebut. “ ketika saya buka bakso itu saya kaget, kok tidak ada anak nya ? lalu saya langsung tanya ke penjualnya. Bang.. ini kok anaknya gak ada ya ? ” lanjutnya. Dengan santai penjual bakso beranak tersebut menoleh dan menjawab “Oh.. keguguran tadi mbak,  jadi anaknya gak ada”. Sontak saja penjual dan pembeli lain yang ada di sana pun langsung tertawa.

Karena sudah sore biasanya stok bakso beranak di sana memang sudah habis. Pak No sebagai pemilik warung bakso bernak tersebut tidak langsung memberitahu kalau bakso beranaknya sudah habis karena Qoridatul hanya pesan bakso satu dan tidak ngomong jika yang dimaksud adalah bakso beranak. Qoridatul tidak memesan dengan kata-kata bakso beranak karena memang sudah langganan beli bakso disana dan Pak No sebenarnya juga sudah hafal.

Qoridatul pun bertanya lagi, “Terus.. dikubur dimana anaknya Pak ?”. Sebelum Pak No menjawab, ada pelanggan lain yang menyaut, “Di perut saya ini mbak..” sambil memakan bakso yang berukuran mungil. Ternyata seporsi bakso beranak terakhir dimakan oleh pembeli lain yang kebetulan masih berada di warung bakso beranak itu. Setelah itu Pak No melanjutkan “Monggo bunga tabur seikhlasnya mbak” sambil memberikan mangkok kosong yang kemudian langsung diambil lagi olehnya.

Kejadian kedua, ketika ada pengamen di warung bakso beranak tersebut. Pengamen tersebut tampak semangat bernyanyi karena ada banyak orang makan bakso. Kalau bernyanyi dengan semangat yang membara kan tentu saja banyak saweran yang didapat. Mungkin seperti itu pemikiran pelantun suara merdu tersebut.

Akan tetapi pemikiran pengamen tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan. Para pembeli merasa terganggu karena suara penyanyi jalanan tersebut terlalu keras. Hesti (19) lalu berdiri dari trmpatnya menyantap bakso beranak dan menghampiri penyanyi jalanan tersebut. “Bang.. jangan keras-keras nyanyinya, nanti anak saya nangis” sambil memberikan uang dan kembali ke tempat duduknya. Pengamen tersebut heran dan bertanya kepada Pak No, “Mana anaknya Pak?.. perasaan cuman makan berdua aja sama temennya”. Hesti yang mendengar pertanyaan dari pengamen tersebut kemudian menjawab “Ini di mangkok bang, barusan baru lahir”. Pak No hanya tertawa dan mengangguk, kemudian pengamen tersebut berlalu ke warung sebelah. Hal yang dilakukan oleh Hesti membuat pelanggan lain tertawa. Kemudian tempat makan tersebut jadi meriah karena ada suara tawa dari pembeli.

Lucu sekali cara Hesti dalam mengusir pengamen. Tanpa harus marah dan menyinggung perasaan pengamen juga. Jika Hesti hanya diam saja pengamen tersebut akan bernyayi lebih lama lagi. Bisa saja menganggu orang-orang yang sedang makan bakso juga karena suara penyanyi jalanan tersebut yang tidak begitu merdu namun keras. Atau malah membuat kehilangan selera untuk menikmati bakso beranak.

 

Rabu, 15 Juli 2020

UJIAN DI TENGAH PANDEMI, SISWA DIBUAT KEBINGUNGAN




Salah satu siswa MTs N 1 Karanganyar, Soffin Ganung Rahmatrisna menyebut ujian di tengah pendemi covid-19 membuat dirinya sangat kebingungan. Menurut dia, ujian yang seharusnya berjalan secara offline berubah menjadi online membuatnya bingung dengan sistem yang dipakai sekolah. sehingga ujian dirasa kuran maksimal. Ujian berlansung pada tanggal 13-16 april 2020.

“Ketika ujian terjadi kerumitan, karena baru pertama kalinya ujian daring. Saya pribadi merasa kebingungan dengan link yang diberikan guru,” ujar Soffin saat diwawancarai melakui Whatsapp, Selasa (14/7/2020).

Soffin menjelaskan, meskipun semua murid sudah siap untuk mengerjakan ujian akan tetapi perubahan sistem yang sangat tiba-tiba membuat para siswa kebingungan. Ada beberapa link ujian yang tidak bisa diakses oleh siswa. Sekolah tempatnya menimba ilmu dirasa masih kurang persiapan. Pantas saja disebut demikian karena memang pandemi ini terjadi secara tiba-tiba.

“Ada kendala lain yang saya alami saat ujian, yakni ketika akan mengunggah jawaban. Karena pada saat ujian secara offline saya hanya perlu memberikannya kepada pengawas. Berbanding terbalik ketika ujian menjadi online seperti ini,” tambah Soffin.

Pengunggahan jawaban ujian diberi waktu selama 1x24 jam. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada salah satu siswa yang jaringan internetnya buruk. Karena memang tidak semua siswa tinggal di kota. Ada beberapa siswa yang tinggal di desa dan terkadang jaringan menjadi buruk saat cuaca sedang tidak stabil.

Kendala-kendala yang telah disebutkan di atas menjadi penghalang siswa dalam mengerjakan ujian, “Saya menjadi malas ujian” sebut Soffian. Ujian dilaksanak secara online dan sistem yang belum dipahami oleh siswa membuat para siswa kehilangan semangat belajar.

Siswa dan guru hanya berkomunikasi melalui Whatsapp Group. Jadi, apabila terjadi kesalahan teknis guru akan memberi informasi kepada siswa melalui grup dan sebaliknya.

“Saya tidak memiliki kartu ujian, data kami sudah diinput oleh guru,” sebut Soffin. Ketika siswa akan melakukan ujian secara online, siswa hanya perlu memasukkan nama dan nomer absen saja. Tidak perlu mengunggah kartu ujian. Jadi hanya memasukkan nama dan nomer absen lalu selanjutnya mengerjakan soal ujian dan kemudian jawaban diunggah.

“Hasilnya nanti orang tua yang ambil di sekolah,” terang Soffin. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Soffin bahwasanya hasil ujian atau kelulusan diambil oleh orang tua. Tidak hanya itu saja, nilai rapot pun juga diberikan saat kelulusan. Orang tua yang mengambil hasil kelulusan juga harus mematuhi protokol kesehatan selama masa pandemi ini. Salah satunya memakai masker.


Minggu, 07 Juni 2020

Lebaran 2020 : LDR (Long Distance Relatioship)  Sragen-Semarang

 

 

Lebaran tahun ini sangat berbeda bagi Fifta, perawat klinik Prima Husada, di Sragen Jawa Tengah. Ia harus merayakan Idulfitri dengan serba kekurangan. “Saya punya saudara di Semarang. Mereka biasanya pulang setahun sekali saat lebaran seperti ini. Namun, tahun ini kami hanya bisa lebaran melalui video-call whatsapp.”

Fifta melaksanakan salat Idulfitri seperti biasanya. Setelah itu biasanya ia akan bersungkeman dengan seluruh saudara. Akan tetapi kali ini berbeda. Ia hanya bisa bersilaturahmi secara virtual. Perasaan nya campur aduk menjadi satu. Rasa senang karena sudah berpuasa selama satu bulan dan pada akhirnya bisa bertemu dengan lebaran. Ada pula rasa sedih karena tidak bisa bertatap muka dengan saudara karena pandemi Covid-19.

“Ini pengalaman pertama, karena tahun sebelumnya kami selalu lengkap” ujar Fifta (21). Ibunya memiliki saudara yang berjumlah lima orang. Sedangkan saudara yang tinggal di Semarang adalah anak terakhir. Dan keempat saudaranya memang tinggal di Ngrejeng, Sragen.

Pemerintah memutuskan untuk melarang masyarakat untuk mudik pada lebaran tahun 2020 ini. Karena ditakutkan virus ini akan menjadi lebih parah. Virus ini tidaklah terlihat, jadi bisa saja orang yang sedang mudik akan terpapar tanpa mereka sadari.

Tahun 2020 ini merupakan tahun terberat bagi Fifta, perawat di Klinik Prima Husada Sragen, Jawa Tengah. Perempuan ini kehilangan nenek dan tantenya dalam waktu yang berdekatan, Maret lalu. Ditambah dengan adanya virus corona ini membuat lebaran menjdi tidak lengkap.

“Bahkan selama bulan puasa kemarin, saya tidak bisa menjalankan solat tarawih berjamaah di Masjid. Pekerjaan saya membuat saya mendiskriminasi diri saya sendiri”. Fifta takut akan pandangan orang-orang yang solat di Masjid, karena pekerjaannya sebagai perawat di salah satu klinik swasta di Sragen.

Fifta menghabiskan bulan puasa sampai lebaran dengan perasaan yang sedih. Banyak hal yang tidak terbayangkan olehnya tiba-tiba terjadi. Seperti kehilangan tante, nenek, tidak bisa solat tarawih bejamaah di masjid dan puncaknya adalah ketika lebaran hanya bisa komunikasi melalui video call whatsapp.

“sedih dan sepi kesan lebaran tahun ini. Banyak kisah sedih yang saya lalui tahun ini”. Fifta sangat merindukan suasana lebaran tahun lalu. Dimana ia bisa bertemu, berkumpul, bersalaman, dan berpelukan deng semua saudara. Tidak LDR (Long Distance Relationship) seperti ini.

Sementara itu, bagi Meri, ibu rumah tangga di Sukodono Sragen, solat idulfitri merupakan ritual penting saat lebaran. “Alhamdulillah, saya tinggal di zona hijau jadi masih bisa solat di Masjid”. Namun tahun ini sepi karena tidak ada pemudik. Solat idulfitri hanya didatangi oleh penduduk sekitar tanpa ada orang dari luar, meskipun memiliki saudara di desa.

Meri megatakan bahwa, dilingkungan tempatnya tinggal tidak ada satupun pemudik dari luar kota. Jadi solat Idulfitri bisa dilaksanakan di Masjid. “Tidak ada lagi tradisi open house sehingga lebaran terasa sangat sepi.