Karang Taruna mengalami kesulitan dana, menanam pohon
pisang menjadi alternatif penyelesaian masalah.
Ngrejeng merupakan salah satu dukuh yang terletak di
bangian utara kabupaten Sragen, alamat lengkapnya yakni Ngrejeng, Klandungan,
Ngrampal, Sragen. Karang taruna di dukuh Ngrejeng bernama Bhina Remaja. Sesuai
dengan namanya, organisasi ini diharapkan bisa membuat kalangan muda lebih
baik.
Masa pandemi seperti ini memiliki dampak yang sangat
besar. Tidak hanya pada individu namun juga berdampak untuk organisasi. Karang
taruna Bhina Remaja Ngrejeng salah satunya. Pemasukan kas menjadi berkurang.
Ketika sebelumnya mereka mendapatkan pemasukan dari dana parkir saat ada pasar
malam, kini menjadi tidak ada sama sekali. Pemasukan kas hanya bergantung pada
iuran anggotanya saja. sedangkan anggota yang aktif mengikuti kegiatan hanyalah
sedikit, sekitar 50%, jelas Afik (27) selaku ketua karang taruna.
Permasalahan seperti ini jika dibiarkan terus menerus
juga tidak baik. Akhirnya pada saat rapat dan arisan rutin anggota dan ketua
karang taruna setuju untuk membuat terobosan baru yakni menananm pohon pisang.
Tentu tidak mudah karena sebagian besar anggota karang taruna merupakan siswa.
Para anggota belum memiliki pengalaman dalam menanam pohon pisang. “Jadinya kami
tanya sama sesepuh, yakni Mbah Google” ucap Afik selaku ketua Karang Taruna
Bhina Remaja Ngrejeng. “Beliau tidak marah ketika kami bertanya panjang lebar..
malah menjelaskan secara rinci tanpa kami minta” tambah Roni (21) saat ditemui
di kediamannya.
Bibit pohon pisang yang didapatkan berasal dari kebun
warga. Lahan yang dipakai juga merupakan kas warga Ngrejeng. Hal ini merupakan
cuan untuk Karang Taruna Bhina Remaja Ngrejeng karena hanya bermodal usaha saja
mereka dapat mengisi uang kas kembali. Harga buah pisang dipasaran juga lumayan
tinggi, sedangkan penanamannya tidak membutuhkan banyak modal. Ini membuat
organisasi remaja ini mendapatkan cuan lebih lagi. “Harga buah pisang satu
tundun bisa sampai 80ribu, di kali 15 pohon.. cuan lagi kan mbak” papar Afik.
“Apalagi kalo pisangnya mungil seperti unyil, bisa jadi konsumsi saat rapat
mbak” Ujar Roni menambahkan.
Karang taruna ini memang rutin melakukan rapat setiap dua
minggu sekali. Uang kas yan dikumpulkan digunakan untuk membuat undangan rapat
dan membeli konsumsi. Sekali rapat bisa menghabiskan uang 50 ribu. Ketika ada
pohon pisang yang buahnya kecil dan ketika dijual tidak laku maka akan menjadi
konsumsi saat rapat. Cuan kembali didapatkan karena tidak perlu membeli makanan
untuk konsumsi.
![]() |
| Tambahkan teks |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar