Selasa, 17 November 2020

KARANG TARUNA NGREJENG SIBUK MENGHASILKAN CUAN

 

Sumber : Dyah Ayu Arini


Karang Taruna mengalami kesulitan dana, menanam pohon pisang menjadi alternatif penyelesaian masalah.

Ngrejeng merupakan salah satu dukuh yang terletak di bangian utara kabupaten Sragen, alamat lengkapnya yakni Ngrejeng, Klandungan, Ngrampal, Sragen. Karang taruna di dukuh Ngrejeng bernama Bhina Remaja. Sesuai dengan namanya, organisasi ini diharapkan bisa membuat kalangan muda lebih baik.

Masa pandemi seperti ini memiliki dampak yang sangat besar. Tidak hanya pada individu namun juga berdampak untuk organisasi. Karang taruna Bhina Remaja Ngrejeng salah satunya. Pemasukan kas menjadi berkurang. Ketika sebelumnya mereka mendapatkan pemasukan dari dana parkir saat ada pasar malam, kini menjadi tidak ada sama sekali. Pemasukan kas hanya bergantung pada iuran anggotanya saja. sedangkan anggota yang aktif mengikuti kegiatan hanyalah sedikit, sekitar 50%, jelas Afik (27) selaku ketua karang taruna.

Permasalahan seperti ini jika dibiarkan terus menerus juga tidak baik. Akhirnya pada saat rapat dan arisan rutin anggota dan ketua karang taruna setuju untuk membuat terobosan baru yakni menananm pohon pisang. Tentu tidak mudah karena sebagian besar anggota karang taruna merupakan siswa. Para anggota belum memiliki pengalaman dalam menanam pohon pisang. “Jadinya kami tanya sama sesepuh, yakni Mbah Google” ucap Afik selaku ketua Karang Taruna Bhina Remaja Ngrejeng. “Beliau tidak marah ketika kami bertanya panjang lebar.. malah menjelaskan secara rinci tanpa kami minta” tambah Roni (21) saat ditemui di kediamannya.

Bibit pohon pisang yang didapatkan berasal dari kebun warga. Lahan yang dipakai juga merupakan kas warga Ngrejeng. Hal ini merupakan cuan untuk Karang Taruna Bhina Remaja Ngrejeng karena hanya bermodal usaha saja mereka dapat mengisi uang kas kembali. Harga buah pisang dipasaran juga lumayan tinggi, sedangkan penanamannya tidak membutuhkan banyak modal. Ini membuat organisasi remaja ini mendapatkan cuan lebih lagi. “Harga buah pisang satu tundun bisa sampai 80ribu, di kali 15 pohon.. cuan lagi kan mbak” papar Afik. “Apalagi kalo pisangnya mungil seperti unyil, bisa jadi konsumsi saat rapat mbak” Ujar Roni menambahkan.

Karang taruna ini memang rutin melakukan rapat setiap dua minggu sekali. Uang kas yan dikumpulkan digunakan untuk membuat undangan rapat dan membeli konsumsi. Sekali rapat bisa menghabiskan uang 50 ribu. Ketika ada pohon pisang yang buahnya kecil dan ketika dijual tidak laku maka akan menjadi konsumsi saat rapat. Cuan kembali didapatkan karena tidak perlu membeli makanan untuk konsumsi.

infografis : 

Tambahkan teks


Tidak ada komentar:

Posting Komentar