Sumber Gambar : Dyah Ayu Arini
Pada umumnya wanita mengalami menstrulasi atau haid setiap 21 hingga 35 hari sekali. Haid ini berlangsung antara satu sampai dua minggu. Akan tetapi ada beberapa wanita yang mengalami haid selama tiga atau empat hari saja.
Saya akhirnya mengalami haid. Hal ini biasa terjad pada
saya selama sebulan sekali. Akan tetapi terkadang dua bulan sekali baru
mengalami haid lagi. Pada awalnya saya termasuk orag-orang yang mengalami haid
tanpa ada rasa sakit. Namun, laama-kelamaan sakit itu menghampiri saya. Hari
pertama dan kedua haid adalah hari yang cukup berat, karena haid ini membuat
perut saya sangat sakit. Tidak haya sakit perut saja terkadang juga disertai
dengan lemas, keringat digin yang keluar dan rasa mual.
Tingga di desa memang dipandang sebelah mata. Karena dianggap masih kuno dan tidak modern. Akan tetapi tinggal di desa ternyata memberikan banyak keuntungan. Salah satunya ketika sakit ada tetangga yang mau membantu. Berbeda ketika tinggal di kota, diharuskan mandiri dengan cara memanggil dokter ke rumah ataupun langsung berangkat ke rumah sakit sendiri.
Ketika mengalami haid, salah satu tetangga menyarankan
untuk mengkonsumsi temu putih. Selain temu putih orang-orang juga memnggilnya
dengan sebutan kunyit putih. Tanaman herbal ini cukup asing di telinga. Karena selama
ini temu ini tidak memiliki embel-embel kata “putih”. Temu biasaya berwara
kuning dan sering digunakan sebagai pewarna alami dan juga sebagai jamu yang
memiliki banyak manfaat. Rasa dari temu sediri masih khas degan rasa rempah
Indonesia. Berbanding terbalik dengan temu putih. Rasanya yang aneh dan getar membuat sebagian orang tidak suka
mengkonsumsinya. Sesuai dengan namanya temu ini berwana putih pucat agak
kuning. Berbeda dengan temu biasa yang berwarna kuning menyala.
Dilansir dari Wikipedia temu putih ini memiliki kandugan zat
warna kuning kurkumin (diarilheptanoid). Komponen minyak atsiri dari rimpangnya
terdiri dari turunan Guaian (kurkumol, kurkumenol, Isokurkumenol,
Prokurkumenol, Kurkurnadiol), turunan Germakran (Kurdion, Dehidrokurdion);
seskuiterpena furanoid dengan kerangka eudesman (Kurkolon). Kerangka Germakran
(Furanodienon, Isofuranodienon, Zederon, Furanodien, Furanogermenon); kerangka
Eleman (Kurserenon identik dengan edoaron, Epikurserenon, Isofurano germakren);
Asam-4-metoksi sinamat (bersifat fungistatik). Dari hasil penelitian lain
ditemukan kurkumanolid A, kurleumanolid B, dan kurkumenon.
Sumber Gambar : Wikipedia
Tubuhan bernama latin Curcuma
Zedoaria Roscoe (Christm) ini memang tidak sepopuler kunyit. Akan tetapi
manfaat yang dihasilkan dari empon-empon satu ini cupuk banyak. Salah satunya
adalah nyeri haid. Berdasarkan hasil peelitian yang dilaksanakan oleh Sari
(2020) DKK. dalam jurnalnya yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Air Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria Roscoe)” pada
Pengurangan Dismenore Primer menunjukkan bahwa responden yang mengkonsumsi
ekstrak air kunyit putih mengalami penurunan nyeri dismenore, teorinya kunyit
putih mengandung minyak atsiri yang mengandung Ar-Turmeron dan β-Turmeron
dapat menurunkan nyeri haid atau anti nyeri dan mengurangi ekskresi kadar prostaglandin.
Berdasar atas hasil penelitian tersebut didapat skala
nyeri disemenore rata-rata pada pre test adalah skor 4.700 termasuk dismenore primer
sedang setelah diberikan ekstrak air kunyit putih yang pertama ada perubahan skala
nyeri dismenore, sebelumnya skor 4.700 menjadi 3.620 (terdapat penurunan skor sebanyak
1.08) sedangkan setelah diberikan ekstrak air kunyit putih yang kedua menjadi 2.350
( terdapat penurunan skor NSR sebanyak 2,35) termasuk kategori dismenore
ringan. Kandungan minyak atsiri dan curcumin dalam 200 gram adalah sebesar
2.36%, hal ini menunjukan tingginya kandungan minyak atsiri pada kunyit putih.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar