Bakso beranak merupakan varian
bakso yang baru dan kemudian viral di Indonesia (2017). Karena bakso ini
ukurannya besar dan di dalamnya terdapat bakso yang lebih kecil. Hal ini lah
penyebab julukannya menjadi bakso beranak. Seperti bakso pada umumnya, bakso
beranak ini juga terdapat mie, sayuran dan tetunya kuah yang gurih.
Warung bakso beranak Vegaro ini
terletak di Jl. Raya Sragen-Tangen. Tepatnya di dukuh Ngrejeng, Klandungan, Ngrampal,
Sragen. lokasinya yang berada di pinggir jalan membuat orang-orang yang ingin
makan tidak kesulitan untuk menemukannya.
Ada kejadian menarik dari pembeli
bakso beranak di sini (9/8/20). Kejadian pertama dialami oleh Qoridatul (21),
pada sore hari ia membeli bakso beranak dan memakannya di sana. “Pertama
disajikan saya agak curiga, karena baksonya lebih kecil dari biasanya. Tetapi saya
berpikir positif, mungkin harga daging sapi sedang naik” ujar Qoridatul,
pelanggan bakso beranak tersebut. “ ketika saya buka bakso itu saya kaget, kok
tidak ada anak nya ? lalu saya langsung tanya ke penjualnya. Bang.. ini kok
anaknya gak ada ya ? ” lanjutnya. Dengan santai penjual bakso beranak tersebut
menoleh dan menjawab “Oh.. keguguran tadi mbak, jadi anaknya gak ada”. Sontak saja penjual dan
pembeli lain yang ada di sana pun langsung tertawa.
Karena sudah sore biasanya stok
bakso beranak di sana memang sudah habis. Pak No sebagai pemilik warung bakso
bernak tersebut tidak langsung memberitahu kalau bakso beranaknya sudah habis
karena Qoridatul hanya pesan bakso satu dan tidak ngomong jika yang dimaksud
adalah bakso beranak. Qoridatul tidak memesan dengan kata-kata bakso beranak
karena memang sudah langganan beli bakso disana dan Pak No sebenarnya juga
sudah hafal.
Qoridatul pun bertanya lagi, “Terus..
dikubur dimana anaknya Pak ?”. Sebelum Pak No menjawab, ada pelanggan lain yang
menyaut, “Di perut saya ini mbak..” sambil memakan bakso yang berukuran mungil.
Ternyata seporsi bakso beranak terakhir dimakan oleh pembeli lain yang
kebetulan masih berada di warung bakso beranak itu. Setelah itu Pak No melanjutkan
“Monggo bunga tabur seikhlasnya mbak” sambil memberikan mangkok kosong yang
kemudian langsung diambil lagi olehnya.
Kejadian kedua, ketika ada
pengamen di warung bakso beranak tersebut. Pengamen tersebut tampak semangat
bernyanyi karena ada banyak orang makan bakso. Kalau bernyanyi dengan semangat
yang membara kan tentu saja banyak saweran yang didapat. Mungkin seperti itu
pemikiran pelantun suara merdu tersebut.
Akan tetapi pemikiran pengamen
tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan. Para pembeli merasa terganggu
karena suara penyanyi jalanan tersebut terlalu keras. Hesti (19) lalu berdiri
dari trmpatnya menyantap bakso beranak dan menghampiri penyanyi jalanan
tersebut. “Bang.. jangan keras-keras nyanyinya, nanti anak saya nangis” sambil
memberikan uang dan kembali ke tempat duduknya. Pengamen tersebut heran dan
bertanya kepada Pak No, “Mana anaknya Pak?.. perasaan cuman makan berdua aja
sama temennya”. Hesti yang mendengar pertanyaan dari pengamen tersebut kemudian
menjawab “Ini di mangkok bang, barusan baru lahir”. Pak No hanya tertawa dan
mengangguk, kemudian pengamen tersebut berlalu ke warung sebelah. Hal yang
dilakukan oleh Hesti membuat pelanggan lain tertawa. Kemudian tempat makan
tersebut jadi meriah karena ada suara tawa dari pembeli.
Lucu sekali cara Hesti dalam
mengusir pengamen. Tanpa harus marah dan menyinggung perasaan pengamen juga. Jika
Hesti hanya diam saja pengamen tersebut akan bernyayi lebih lama lagi. Bisa saja
menganggu orang-orang yang sedang makan bakso juga karena suara penyanyi
jalanan tersebut yang tidak begitu merdu namun keras. Atau malah membuat
kehilangan selera untuk menikmati bakso beranak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar