Jumat, 18 September 2020

Bakso Beranak Penyelamat dari Sakit Telinga

 


Bakso beranak merupakan varian bakso yang baru dan kemudian viral di Indonesia (2017). Karena bakso ini ukurannya besar dan di dalamnya terdapat bakso yang lebih kecil. Hal ini lah penyebab julukannya menjadi bakso beranak. Seperti bakso pada umumnya, bakso beranak ini juga terdapat mie, sayuran dan tetunya kuah yang gurih.

Warung bakso beranak Vegaro ini terletak di Jl. Raya Sragen-Tangen. Tepatnya di dukuh Ngrejeng, Klandungan, Ngrampal, Sragen. lokasinya yang berada di pinggir jalan membuat orang-orang yang ingin makan tidak kesulitan untuk menemukannya.

Ada kejadian menarik dari pembeli bakso beranak di sini (9/8/20). Kejadian pertama dialami oleh Qoridatul (21), pada sore hari ia membeli bakso beranak dan memakannya di sana. “Pertama disajikan saya agak curiga, karena baksonya lebih kecil dari biasanya. Tetapi saya berpikir positif, mungkin harga daging sapi sedang naik” ujar Qoridatul, pelanggan bakso beranak tersebut. “ ketika saya buka bakso itu saya kaget, kok tidak ada anak nya ? lalu saya langsung tanya ke penjualnya. Bang.. ini kok anaknya gak ada ya ? ” lanjutnya. Dengan santai penjual bakso beranak tersebut menoleh dan menjawab “Oh.. keguguran tadi mbak,  jadi anaknya gak ada”. Sontak saja penjual dan pembeli lain yang ada di sana pun langsung tertawa.

Karena sudah sore biasanya stok bakso beranak di sana memang sudah habis. Pak No sebagai pemilik warung bakso bernak tersebut tidak langsung memberitahu kalau bakso beranaknya sudah habis karena Qoridatul hanya pesan bakso satu dan tidak ngomong jika yang dimaksud adalah bakso beranak. Qoridatul tidak memesan dengan kata-kata bakso beranak karena memang sudah langganan beli bakso disana dan Pak No sebenarnya juga sudah hafal.

Qoridatul pun bertanya lagi, “Terus.. dikubur dimana anaknya Pak ?”. Sebelum Pak No menjawab, ada pelanggan lain yang menyaut, “Di perut saya ini mbak..” sambil memakan bakso yang berukuran mungil. Ternyata seporsi bakso beranak terakhir dimakan oleh pembeli lain yang kebetulan masih berada di warung bakso beranak itu. Setelah itu Pak No melanjutkan “Monggo bunga tabur seikhlasnya mbak” sambil memberikan mangkok kosong yang kemudian langsung diambil lagi olehnya.

Kejadian kedua, ketika ada pengamen di warung bakso beranak tersebut. Pengamen tersebut tampak semangat bernyanyi karena ada banyak orang makan bakso. Kalau bernyanyi dengan semangat yang membara kan tentu saja banyak saweran yang didapat. Mungkin seperti itu pemikiran pelantun suara merdu tersebut.

Akan tetapi pemikiran pengamen tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan. Para pembeli merasa terganggu karena suara penyanyi jalanan tersebut terlalu keras. Hesti (19) lalu berdiri dari trmpatnya menyantap bakso beranak dan menghampiri penyanyi jalanan tersebut. “Bang.. jangan keras-keras nyanyinya, nanti anak saya nangis” sambil memberikan uang dan kembali ke tempat duduknya. Pengamen tersebut heran dan bertanya kepada Pak No, “Mana anaknya Pak?.. perasaan cuman makan berdua aja sama temennya”. Hesti yang mendengar pertanyaan dari pengamen tersebut kemudian menjawab “Ini di mangkok bang, barusan baru lahir”. Pak No hanya tertawa dan mengangguk, kemudian pengamen tersebut berlalu ke warung sebelah. Hal yang dilakukan oleh Hesti membuat pelanggan lain tertawa. Kemudian tempat makan tersebut jadi meriah karena ada suara tawa dari pembeli.

Lucu sekali cara Hesti dalam mengusir pengamen. Tanpa harus marah dan menyinggung perasaan pengamen juga. Jika Hesti hanya diam saja pengamen tersebut akan bernyayi lebih lama lagi. Bisa saja menganggu orang-orang yang sedang makan bakso juga karena suara penyanyi jalanan tersebut yang tidak begitu merdu namun keras. Atau malah membuat kehilangan selera untuk menikmati bakso beranak.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar